KESEHATAN GIGI
KESEHATAN GIGI
Program pembangunan di sektor
kesehatan Indonesia bertujuan untuk meningkatan kesadaran, kemauan dan
kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan yang
optimal di tandai oleh penduduknya yang hidup dengan berperilaku dan dalam
lingkungan yang sehat. Memiliki kemampuan untuk menjangkau pelayanan kesehatan
yang bermutu adil dan merata. Pembangunan di bidang kesehatan gigi merupakan
bagian integral dari pembangunan kesehatan secara umum. Penyakit gigi dan mulut
merupakan penyakit yang tersebar luas di masyarakat Indonesia. Kesehatan gigi
masih menjadi prioritas kesekian bagi sebagian banyak masyarakat di tandai dari
presentase masalah kesehatan gigi. Presentase penduduk yang mempunyai masalah
gigi dan mulut menurut Riskesdas tahun 2007 dan 2013 meningkat dari 23,2%
menjadi 25,9%. Penderita penyakit karies sebesar 53,5% sedangkan penyakit periodontal menduduki
tempat kedua yaitu sebanyak 28,32%. Penyakit karies gigi dan penyakit
periodontal merupakan dua penyakit gigi dan mulut yang paling sering ditemukan
di klinik gigi dan merupakan penyebab utama hilangnya gigi di dalam rongga
mulut.
Karies (gigi berlubang) adalah
kerusakan pada struktur jaringan keras gigi (email dan dentil) di akibatkan
oleh asam yang di hasilkan oleh bakteri terdapat pada plak. Plak adalah sisa
makanan yang menempel pada dinding gigi terbentuk dari air liur, sisa makanan
serta kuman. Jika terlalu lama terendap maka akan menjadi bakteri bakteri
Streptococcus mutans (S. Mutans) menghasikan zat asam dan terjadi korosi pada
email. Tidak sebatas itu merokok juga menyebabkan penurunan antibodi dalam
saliva, yang berguna untuk menetralisir bakteri dalam rongga mulut, sehingga
terjadi gangguan fungsi sel-sel pertahanan tubuh. Potensial reduksi-oksidasi
(Eh) pada regio gingiva dan rongga mulut menurun akibat merokok. Kerusakan
jaringan periodontal akibat merokok, diawali dengan terjadinya akumulasi plak
pada gigi dan gingiva. Tar yang mengendap pada gigi, selain menimbulkan masalah
secara estetik, juga menyebabkan permukaan gigi menjadi kasar, sehingga mudah
dilekati plak. Akumulasi plak pada margin gingiva, diperparah dengan kondisi
kebersihan mulut yang kurang baik, menyebabkan terjadinya gingivitis. Karies di
sebabkan oleh beberapa faktor antara lain usia, suku bangsa, kultur sosial
penduduk dan kesadaran sikap terhadap kesehatan gigi. Pembusukan di bagi
menjadi tiga stadium, pertama karies superficialis terjadi pada lapisan gigi
email, kedua karies media tumbuh secara perlahan setelah menembus pada lapisan
ke dua dentil, ketiga karies profunda pembusukan akan lebih cepat masuk ke dalam
pulpa. Untuk menembus email di butuhkan waktu 2-3 tahun.
Pada umumnya anak usia <16 tahun
lebih mudah terkena karies dengan resiko tiga kali lipat di banding orang
dewasa, namun tidak menutup kemungkinan orang dewasapun dapat terkena karies.
Penilaian risiko karies terbagi atas risiko karies tinggi, sedang dan rendah
berdasarkan indikator yang meliputi kondisi klinis, karakteristik lingkungan
dan kondisi kesehatan umum. Penilaian ini harus dilakukan untuk setiap orang
sebagai tindakan dasar rutin untuk menentukan tindakan pencegahan dan perawatan
serta menentukan jadwal kunjungan berkala. Tindakan pencegahan primer pada yang
berisiko karies tinggi meliputi modifikasi kebiasaan (kebersihan mulut dan diet konsumsi gula) dan
perlindungan gigi (penggunaan silen, fluor dan klorheksidin). Bedasakan kajian karies
dapat menyerang kalangan semua umur dengan jangka waktu yang relatif panjang.
Dengan demikian perlu adanya kesadaran orang tua mengenai kesehatan gigi agar
adanya perawatan yang intensif terhadap anak-anak mereka.
Penulis Ahus Taghna
Artikel ini di dukung oleh Dental Uneverse Indonesia
Daftar
Pustaka
Ami,
A. 2005. Pencegahan primer
pada anak yang berisiko karies tinggi. Fakultas Kedokteran
Gigi Universitas Sumatera Utara Medan : Maj. Ked. Gigi. (Dent. J.), Vol. 38.
No. 3 Juli–September 2005: 130–134. Diambil dari: http://e-journal.unair.ac.id/index.php/MKG/article/download/1131/914
Andina,
R. Pengaruh Merokok Terhadap Kesehatan
Gigi Dan Rongga Mulut. Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Islam Sultan
Agung Semarang: Majalah Sultan Agung. Diambil dari: http://jurnal.unisulla.ac.id/index.php/majalahilmiahsultanagung/article/download/39/33
Ardo,
S. 2005. Aktivitas antibakteri flavonoid propolis Trigona sp terhadap bakteri
Streptococcus mutans (in vitro). Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera
Utara Medan: Maj. Ked. Gigi. (Dent. J.), Vol. 38. No. 3 Juli–September 2005:
134-141. Diambil dari: http://e-journal.unair.ac.id/index.php/MKG/article/download/1132/915
Herry,
N. Penyuluhan Kesehatan Gigi & Mulut. Dept. Ilmu Kesehatan Gigi Masyarakat
– Pencegahan FKG-UI Bogor. Diambil dari: http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/09%20Kesehatan%20Gigi%20&%20Mulut.pdf
Kemenkes
RI. 2014. Infodatin, Situasi Kesehatan
Gigi dan Mulut. Jakarta: Kemenkes RI. Diambil dari: http://www.depnakes.go.id/resources/download/pusdatin/infodatin-gilut.pdf
PGGI
Cabang Purworejo. 2012. Pengertian
Karies, Proses Karies Gigi, Faktor Penyebab Karies Gigi, Macam-macam Karies
Gigi. Diambil dari: http://ppgi-purworejo.blogspot.co.id/2012/01/pengertian-karies-gigi-proeses-karies-.html?m=1
Sri,
H. dan Annisa, A. 2010. Perbedaan
pengaruh pedidikan kesehatan gigi dalam meningkatkan pengetahuan tentang
kesehatan gigi pada anak di SDN 2 sambi kecamatan Sambi kabupaten Boyolali. Sekolah
Tinggi Ilmu Kesehatan Aisyiyah Surakarta: GASTER, Vol. 7, No. 2 Agustus 2010
(624 – 632). Diambil dari: http://jurnal.stikes-aisyiyah.ac.id/index.php/gaster/article/download/18/15
Syukra,
A. 2011. Status Kebersihan Gigi dan Mulut
dengan Status Karies Gigi (Kajian pada Murid Kelompok Umur 12 Tahun di Sekolah
Dasar Negeri Kota Bukittinggi). Politeknik Kesehatan Padang: Berita
Kedokteran Masyarakat Vol. 27, No. 2, Juni 2011: 108-115. Diambil dari: http://journal.ugm.ac.id/bkm/article/view/3411/2959

Komentar
Posting Komentar